Rabu, 14 Oktober 2015

Astronomia

Luna, Surya dan Lintang

Aku menyebut mereka demikian. Cantik ya, dan ketiga nama itu serasa memiliki filosofi. Biar saja saya memanggil mereka seperti itu, di dunia ini kan aku "pencipta" (karakter) mereka.

Bagaimana jika dalam konteks fiktif ini mereka sesuatu yang bernyawa dan memiliki perasaan. Jadi impian sederhada ketiganya hanyalah sebatas hidup tentram dengan belahan jiwa mereka. Impian klasik yang begitu mulia. Kata kunci rasa mulia itu adalah frasa "tentram". Kadang tentram bagi satu karakter berdeda dengan tentram bagi karakter yang lain. Di sini begitu absurd, seperti apa parameternya?

Oh Luna, lembut, penyayang. Setiap pasang mata yang menatap raut wajahnya senantiasa terpikat. Hanya saja dia penuh dengan keraguan. Melankolis, diam, namun hangat jika senyuman itu mengembang dibibir mungilnya. Seperti setengah dari kematian, separuh dari jiwanya berkelana di alam fana, namun ada kalanya kadang ia hanyut-entah jadi sosok tak dikenal dalam lamunan itu. Selalu ada jiwa-jiwa tak kasat mata yang merusaha mengusik ketenagannya.

Di sisi lain, di sebrang sana ada Surya. Menawan, tangguh, kadang berbahasa.

Ada juga lintang, sebenarnya kasihnya begitu besar, namun apa daya jarak yang tak sentuh membuat sosoknya begitu kecil dan terlihat tak berdaya. Dia kaya akan hati, tapi dia kalah dekat dengan Surya. Sayang, meski ia periang namun soal peraan, Lintang begitu rapih menyimpannya.

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar