FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
BELAJAR SISWA DAN UPAYA MENINGKATKANNYA
Fitriana Rahmawati
Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia
Abstrak
Minat belajar
setiap siswa memang beragam, ada siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi
ada pula yang memiliki minat belajar yang rendah. Sering kali kita menginginkan
hasil dari proses belajar siswa dengan mematok nilai sekian dan menganggap
siswa yang belum mencapai nilai tersebut sebagai siswa yang gagal, tanpa kita
ketahui alasannya yang jelas mengapa sampai ada sebagian siswa yang tidak
tuntas mencapai patokan tersebut. Padahal hakikat dari belajar bukanlah melalui
hasil, melainkan proses. Proses belajar inilah yang perlu kita evaluasi untuk
mencari titik kelemahan siswa sehingga dapat kita ketahui, lalu segera diambil
tidakan supaya siswa yang belum tuntas dapat mencapai nilai yang lebih baik
lagi. Bentuk evaluasi ini berupa upaya menggali seberapa dalam pengaruh
faktor-faktor belajar siswa terhadap kiat belajar siswa. Dengan mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi belajar inilah kita dapat mengupayakan agar
kiat belajar siswa dapat ditingkatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan kiat
belajar siswa yaitu dengan kembali memperhatikan faktor-faktor yang mendorong
perbuatan belajar, memahami kondisi siswa dan menggunakan teori kebutuhan dasar
manusia sebagai tolok ukurnya.
Kata
kunci: faktor-faktor belajar, teori kebutuhan dasar manusia.
A.
PENDAHULUAN
Dalam
sebuah kelas kelas kita dapat menemukan adanya bemacam-macam nilai yang
menggambarkan hasil belajar beberapa siswa. Materi pelajaran sama, jam
pelajaran sama dan kesempatan untuk aktif di dalam kelas juga sama, namun masih
saja ada siswa yang belum mencapai nilai batas KKM dalam suatu pelajaran. Kasus
demikian terjadi di SMK yang saya gunakan untuk pengambilan sample. Bermula dari kasus inilah, tentu
ada faktor lain yang dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Kita harus sadar
betul apa saja faktor yang memengaruhi kiat belajar siswa. Dengan merumuskan
faktor-faktor tersebut kita akan tahu apa strategi yang tepat untuk mengatasi
rendahnya kiat belajar siswa
Dalam
artikel ini kita akan membahas mengenai hubungan antara faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar dengan teori kebutuhan dasar Maslow. Dengan demikian kita
dapat mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa. Lalu akhirnya kita
juga akan membahas bagaimana cara meningkatkan kiat belajar siswa.
Teori Dasar
Menurut uraian H. C. Witherigton dan Lee J. Cronbach
Bapemsi, faktor-faktor serta kondisi yang mendorong perbuatan belajar bisa
diringkas sebagai berikut:
1.
Situasi belajar
(kesehatan jasmani, keadaan psikis, pengalaman dasar)
2.
Penguasaan
alat-alat intelektual
3.
Latihan-latihan
yang terpencar.
4.
Penggunaan
unti-unit yang berarti.
5.
Latihan yang
aktif.
6.
Kebaikan bentuk
sistem.
7.
Efek penghargaan
dan hukuman.
8.
Tindakan-tindakan
pedagogis.
9.
Kapasitas dasar.
Situasi Belajar
a)
Kesehatan
jasmani
Kekurangan
gizi biasanya mempunyai pengaruh terhadap keadaan jasmani, mudah mengantuk,
lekas lelah, dan sejenisnya. Selain kadar makanan, pengaturan waktu istirahat
juga memengaruhi keadaan jasmani seorang siswa dan pada akhirnya juga
berpengaruh pada kegiatan belajar siswa. Secara khusus, keadaan jasmani seorang
siswa yang berkebutuhan khusus juga memengaruhi kegiatan belajar, misalnya
seperti siswa yang memerlukan alat bantu kaca mata untuk melihat, dan siswa
yang memiliki gangguan pada organ telinga, karena pada dasarnya panca indra
adalah pintu gerbang ilmu pengetahuan, hal ini mengingatkan bahwa pengenalan
dunia luar yang biasa disebut pengamatan, panca indra punya peranan penting.
b)
Keadaan psikis
Keadaan
psikis meliputi faktor perhatian, kognitif, afektif dan motivasi. Perhatian
merupakan pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu objek atau banyak
sedikitnya kesadaran yang menyertai aktivitas yang dilakukan. Faktor kognitif
meliputi pengamatan, tanggapan, ingatan dan berpikir. Faktor afektif meliputi
perasaan, emosi, dan suasana hati. Sedangkan yang terkhir adalah faktor
motivasi, faktor ini merupakan keadaan jiwa individu yang mendorong untuk
melakukan suatu perbuatan guna mencapai suatu tujuan.
c)
Pengalaman dasar
Garis besar
megenai pengalaman dasar yaitu pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai dasar
untuk memahami konsep pengetahuan yang baru.
Penguasaan
Alat-alat Intelektual
Penguasaan alat-alat intelektual
tergantung kepada tuntutan-tuntutan lingkungan individu yang mungkin terjadi,
seperti bahasa bilangan, membaca, menulis, mengarang, logika dan sebagainya.
Latihan-Latihan
yang Terpencar
Belajar akan lebih efektif apabila
periode latihan disusun terpencar, belajar 6 jam sehari lebih baik dipendekkan
menjadi 3 hari, setiap hari 2 jam.
Penggunaan
Unti-unit yang Berarti
Penggunaan unit-unit yang berarti
maksudnya yaitu menggunakan suatu hal atau suatu barang yang berkaitan antara
kehidupan nyata dengan materi yang akan dipelajari.
Latihan yang
Aktif
Garis besar dari latihan yang aktif
yaitu seseorang yang ingin belajar mengenai sesuatu tidak dapat diperoleh
dengan cara yang instan, perlu adanya proses untuk mempelajarinya. Seperti
misalnya orang yang ingin belajar naik sepeda tidak akan bisa naik sepeda jika
hanya melihatnya, perlu latihan agar dapat naik sepeda, dan perlu adanya
latihan yang berurang.
Kebaikan Bentuk
Sistem
Garis besar kebaikan bentuk sistem yaitu
siswa akan merasa lebih mudah jika menerapkan pembelajaran konsep terlebih
dahulu baru setelah itu melakukan pembelajaran praktik. Ketepatan cara dan
posisi akan sangat mempengaruhi aktivitas belajar.
Efek Penghargaan
dan Hukuman
Ada kalanya penghargaan dan hukuman
disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan siswa. Misalnya, siswa yang pandai
tentu dengan mudah akan mendapatkan penghargaan namun tidak untuk yang kurang
pandai, maka perlu dipertimbangkan kriteria siswa yang seperti apa yang akan
mendapatkan reward.
Tindakan-tindakan
Pedagogis
Hal-hal yang dianggap bisa menghambat
belajar peserta didik antara lain, kegagalan memahami siswa, meruak motif
belajar yang sudah ada dengan mengubah cara belajar siswa, pengertian guru yang
kurang jelas megenai materi, dengan demikian akan mengakibatkan siswa memahami
konsep yang salah dan guru tidak mampu memberikan bimbingan yang baik.
Kapasitas Dasar
Kapasitas
dasar yang dimiliki masing-masing siswa berbeda, dengan kapasitas yang berbeda,
siswa berjalan dengan kecepatannya masing-masing dan mereka menangkap
fakta-fakta dengan luas dan sempitnya daerah yang mereka miliki. Kapasitas
perbedaan vertical dapat dilihat dari besarnya nilai tes IQ, sedangkan
perbedaan kualitatif dapat dibedakan menjadi kecenderungan intelegen, estetis,
motoris dan lain sebagainya.
Teori Kebutuhan Dasar Maslow
Suatu
sifat dipandang sebagai kebutuhan dasar bila memenuhi syarat berikut;
ketidak-hadirannya menimbulkan penyakit, kehadirannya menghindarkan penyakit,
pemulihannya menyembuhkan penyakit, orang yang sedang kekurangan kebutuhan ini
cenderung memilih kebutuhan ini dibanding kebutuhan yang lainnya, kebutuhan ini
tidak aktif atau secara fungsional tidak terdapat pada orang yang sehat. Maka
dengan sifat tersebut, Maslow merumuskan kebutuhan dasar, kebutuhan itu adalah:
1.
Kebutuhan
fisologis
Kebutuhan
yang mendasar bagi manusia adalah kebutuhannya mempertahankan diri secara fisik,
yaitu kebutuhan makan, minum, tempat berteduh, seks, tidur dan oksigen.
2.
Kebutuhan akan
rasa aman
Seseorang
yang tidak merasa aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas
secara berlebihan serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat
asing dan yang tidak diharapkan.
3.
Kebutuhan akan
rasa memiliki-dimiliki dan akan kasih sayang
Kebutuhan
ini muncul ketika kebutuhan yang pertama dan kedua terpenuhi, maka muncullah
kebutuhan akan cinta, kasih sayang dan rasa memiliki-dimiliki. Maslow
sependapat dengan rumusan Carl Rogers tentang cinta, yaitu “keadaan dimengerti
secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati.”
4.
Kebutuhan akan
penghargaan
Setiap
orang memiliki dua kategori kebutuhan akan penghargaan, yakni harga diri dan
penghargaan atas diri orang lain.
5.
Kebutuhan akan
aktualisasi diri
Kebutuhan
ini memaparkan tentang kebutuhan psikologis untuk menumbuhkan, mengembangkan,
dan menggunakan kemampuan.
6.
Hasrat untuk
tahu dan memahami
Maslow
berkeyakinan bahwa salah satu ciri mental yang sehat ialah adanya rasa ingin
tahu.
7.
Kebutuhan
estetik
Atas
dasar pengalaman Maslow yang melihat lingkungan jorok membuat rasa jemu kepada
mahasiswa maka Maslow memasukkan kebutuhan estetik sebagai kebutuhan dasar yang
ke tujuh.
B.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan.
Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru
sangat berperan sekali dalam proses penelitian observasi siswa di kelas. Dalam
bentuk ini, tujuan utama penelitian obsevasi siswa di kelas ialah untuk mendiskripsikan
faktor –faktor yang mempengaruhi belajar siswa di kelas yaitu dengan cara cara memberikan pertanyaan
dalam bentuk kuisioner untuk mereka isi sesuai dengan kondisi yang mereka
alami. Masing-masing kelas diambil sampel sebanyak 5 sampel secara acak. Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan data, fakta dan keadaan yang ada di
lapangan.
Tempat
penelitian ini saya laksanakan di salah satu
SMK di Yogyakarta pada tahun ajaran
2014-2015, semester gasal.
C.
PEMBAHASAN
Data Penelitian
Berdasarkan teori yang telah dipaparkan
pada pembahasan sebelumnya, bagian ini akan memaparkan hasil penelitian yang
telah dilakukan pada hari Senin, 15 September 2014 terhadap sample siswa kelas XI di salah satu SMK Yogyakarta
mengenai faktor-faktor yang memegaruhi belajar.
Daftar
pertanyaan:
Situasi Belajar
(Kesehatan Jasmani)
|
1) Saya
membiasakan diri untuk sarapan sebelum berangkat sekolah.
2) Setidaknya
dalam sehari saya mengonsumsi buah dan sayur.
3) Saya
mudah terkena flu atau penyakit lainnya jika ada teman yang sedang sakit.
4) Saya
menggunakan kaca mata sebagai alat bantu untuk membaca.
5) Saya
sangat tergantung pada kaca mata untuk melihat.
6) Saya
pernah jatuh sakit sehingga membuat kegiatan belajar saya terganggu.
7) Saya
merasa suara guru dalam menjelaskan materi pelajaran kurang keras.
|
Situasi Belajar
(Kesehatan Psikis)
(Kognitif)
(Afektif)
(Motivasi)
|
8) Saya
merasa kurang mendapatkan perhatian ketika saya bertanya atau mengungkapkan
gagasan dalam konteks pembelajaran.
9) Saya
lebih bersemangat jika ketika bertanya mendapatkan jawaban yang memuaskan
dari guru.
10) Saya
lebih bersemangat jika ketika menjawab mendapatkan pujian atau apresiasi yang
bagus dari guru.
11) Saya
memperoleh nilai yang baik pada mata pelajaran yang saya sukai.
12) Saya
memperoleh nilai yang baik pada mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang
sering memberikan pujian atau apresiasi.
|
13) Konsentrasi
saya mudah terganggu jika ada siswa yang ramai.
14) Saya
sering merasa kesulitan memahami penjelasan materi dari guru.
|
|
15) Saya
merasa takut ketika kesulitan memahami materi pelajaran.
|
|
16) Saya
jarang terlambat sekolah meski jarak antara rumah saya dengan sekolah lebih dari 5 km.
17) Saya
tidak berangkat ke sekolah jika orangtua tidak memberikan uang saku yang
cukup.
|
|
Penggunaan Unit-unit yang
berarti
|
18) Saya
merasa terbantu jika dalam proses pembelajaran menggunakan alat peraga atau
gambar-gambar yang mendukung pembelajaran.
|
Kebalikan Bentuk Sistem
|
19) Saya
mudah mempelajari suatu hal jika saya semula belajar mengenai konsep baru
setelah itu melakukan praktik.
|
Reward dan Hukuman
|
20) Saya
merasa lebih bersemangat jika saya mendapatkan reward (hadiah) atas hasil
prestasi saya.
21) Dengan
penuh kesadaran, saya dapat menerima hukuman atas kemalasan saya dan saya
menyadari itu adalah konsekuensi dari tindakan saya.
|
Tindakan-tindakan Pedagogis
|
22) Saya
merasa kurang percaya jika mendengar penjelasan guru yang kurang jelas dalam
menjelaskan materi.
23) Jika
ada guru yang kurang jelas dalam menjelaskan materi, saya merasa tertantang
untuk mencari dan mendalami materi dari sumber lain.
|
Kapasitas Dasar
|
24) Saya
merasa cukup puas atas prestasi yang saya raih hingga saat ini.
25) Tes
IQ yang pernah saya lakukan membuat saya semakin termotivasi untuk lebih giat
belajar.
|
Hasil Kuisioner:
Faktor
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
|
Situasi Belajar
(Kesehatan Jasmani)
|
1) Kebiasaan
sarapan.
2) Konsumsi
buah dan sayur.
3) Daya
tahan tubuh.
4) Kaca
mata sebagai alat bantu untuk membaca.
5) Kaca
mata untuk melihat.
6) Penyakit
yang membuat belajar terganggu.
7) Masalah
pendengaran.
|
8
5
-
4
3
2
1
|
11
13
8
2
1
11
9
|
1
2
12
6
4
6
10
|
-
1
-
8
12
6
-
|
Situasi Belajar
(Kesehatan Psikis)
(Kognitif)
(Afektif)
(Motivasi)
|
8) Perhatian
di kelas konteks pembelajaran.
9) Feedback
jawaban dari guru.
10) Apresiasi
yang bagus dari guru.
11) Nilai
yang baik pada mata pelajaran yang saya sukai.
12) nilai
yang baik pada mata pelajaran yang komunikatif
|
-
10
6
6
1
|
5
9
14
12
10
|
12
1
-
2
9
|
3
-
-
-
-
|
13) Konsentrasi.
14) Kesulitan
memahami penjelasan materi dari guru.
|
10
7
|
9
9
|
1
8
|
-
-
|
|
15) Takut
ketika kesulitan memahami materi pelajaran.
|
3
|
8
|
6
|
3
|
|
16) Disiplin
waktu.
17) Uang
saku sebabagai prasyarat.
|
7
-
|
6
-
|
6
6
|
1
14
|
|
Penggunaan Unit-unit
|
18) Media
pembelajaran
|
10
|
9
|
1
|
-
|
Kebalikan B-S
|
19) Sistem
belajar konsep - praktik.
|
12
|
7
|
1
|
-
|
Reward dan Hukuman
|
20) Efek
reward (hadiah).
21) Kesadaran
atas hukuman.
|
7
5
|
10
14
|
3
1
|
-
-
|
Tindakan-tindakan Pedagogis
|
22) Kurang
percaya terhadap penjelasan yang mengambang.
23) Tertantang
untuk mencari dan mendalami materi dari sumber lain.
|
1
1
|
13
17
|
6
2
|
-
-
|
Kapasitas Dasar
|
24) Puas
atas prestasi yang telah diraih.
25) Tes
IQ membuat siswa semakin termotivasi.
|
3
7
|
9
12
|
8
1
|
-
-
|
Berdasarkan sample
yang diambil secara acak, gambaran data di atas menunjukkan kecenderungan
sebagai berikut:
1)
Mengenai kebiasaan
sarapan, 40% siswa membiasakan diri
sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
2)
Mengenai
konsumsi buah dan sayur, 25% sadar akan makan makanan sehat.
3)
Mengenai daya tahan
tubuh, 60% tidak rentan terhadap penyakit.
4)
Mengenai kaca
mata sebagai alat bantu untuk membaca, 20% membutuhkan alat bantu untuk membaca
dan 40 % sama sekali tidak memliki masalah dengan mata.
5)
Mengenai kaca
mata untuk melihat, 15 % benar-benar membutuhkan alat bantu untuk membaca dan
60% tidak memiliki masalah dengan mata.
6)
Mengenai penyakit
yang membuat belajar terganggu, 55% siswa merasa terganggu bila dalam menerima
pelajaran sedang dalam keadaan sakit.
7)
Mengenai masalah
pendengaran, 50% merasa suara guru di dalam menjelaskan materi di dalam kelas
kurang keras, dan 50% sisanya tidak merasa terganggu dengan hal demikian.
8)
Mengenai perhatian
di kelas dalam konteks pembelajaran, 25% siswa menjawab bahwa dirinya kurang
mendapatkan perhatian dari guru dan teman-temannya.
9)
Mengenai Feedback jawaban dari guru, 50% siswa
menjawab sangat lebih bersemangat jika guru memberikan feedback kepada mereka, dan 45% siswa menjawab cukup beremangat.
10) Mengenai apresiasi yang bagus dari guru, 70% siswa
lebih bersemangat bila guru mengapresiasi hasil kerja siswa.
11) Mengenai nilai yang baik pada mata pelajaran yang
saya sukai, keseluruhannya 90% siswa memndapatkan nilai yang baik pada mata
pelajaran yang mereka sukai.
12) Mengenai nilai yang baik pada mata pelajaran yang pembelajarannya
komunikatif, keseluruhanya 55% siswa akan tertarik bila guru menerangkan materi
dengan cara yang komunikatif.
13) Mengenai konsentrasi, 50% siswa sangat terganggu
dengan kelas yang gaduh, 45% merasa cukup terganggu, dan 5% merasa biasa saja
dengan keadaan kelas yang gaduh.
14) Mengenai kesulitan memahami penjelasan materi dari
guru, 35% siswa sangat mengalami kesulitan menerima penjelasan guru, 45% cukup
kesuitan dan 20% tidak begitu mendapat kesulitan yang berarti.
15) Mengenai ketakutan ketika kesulitan memahami materi
pelajaran, 55% merasa takut, 30% tidak
begitu takut dan 15% sama sekali tidak takut jika menemui kesulitan dalam hal
belajar.
16) Mengenai disiplin waktu, 65% siswa cukup sadar akan
disiplin waktu dan 35% masih sering terlambat berangkat ke sekolah.
17) Mengenai uang saku sebabagai prasyarat berangkat ke
sekolah, 100% siswa telah meliki kesadaran untuk tetap berangkat kesekolah
meski tidak diberi uang saku, dan 70% diantaranya benar-benar yakin akan hal
itu.
18) Mengenai media pembelajaran, 95% siswa yakin media
sangat membantu mereka dlam memahami materi pelajaran, dan 50% yang benar-benar
yakin akan hal itu.
19) Mengenai sistem belajar konsep – praktik, 95% siswa
lebih memahami sistem belajar konsep-praktik, dan 60% yang benar-benar yakin
akan hal itu.
20) Mengenai efek reward (hadiah), 85% siswa akan lebih
semangat jika di pancing dengan reward sedangkan 15% siswa merasa reward tidak
begitu berpengaruh terhadap peningkatan semangat belajar mereka.
21) Mengenai kesadaran atas hukuman, 95% siswa sanggu
menerima hukuman atas kemalasan mereka, namun hanya 25% yang benar-benar
sanggup akan hal ini.
22) Mengenai rasa percaya terhadap penjelasan guru yang
mengambang, 70% siswa meragukan guru tersebut dan 30% siswa tidak
mempermasalahkan mengenai hal itu.
23) Mengenai rasa keingintahuan siswa untuk mencari dan
mendalami materi dari sumber lain, hanya 5% siswa yang benar-benar merasa
tertantang untuk mencari tahu apakah yang disampaikan guru benar adanya atau
tidak.
24) Mengenai kepuasan atas prestasi yang telah diraih,
15% siswa benar-benar merasa puas akan prestasinya, 45% cukup puas dan 40%
siswa tidak puas dengan prestasi mereka selama ini.
25) Mengenai tes IQ yang membuat siswa semakin
termotivasi, 95% siswa merasa lebih terpacu untuk giat belajar setelah
mengetahui ter IQ-nya, dan 5% siswa merasa tes IQ tidak memberikan perubahan
apapun dalam hal motivasi belajar.
Kaitan Teori Kebutuhan Maslow dengan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar siswa telah disebutkan di awal pembahasan, dari
penelitian yang telah dilakukan di sejumlah siswa kelas XI dapat disimpulkan
bahwa memang benar adanya, proses belajar siswa dipengaruhi oleh situasi
belajar, penguasaan alat-alat intelektual, atihan-latihan yang terpencar, penggunaan
unti-unit yang berarti, latihan yang aktif, kebaikan bentuk sistem, efek
penghargaan dan hukuman, tindakan-tindakan pedagogis, dan kapasitas dasar.
Jika
kita kaitkan anatara faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dengan teori
kebutuhan Maslow, rupanya memang benar siswa tidak dapat menerima pelajaran
dengan baik jika dalam kondisi perut yang kosong atau keadaan fisik siswa
kurang mendapatkan gizi yang baik.
Pada
aspek psikis juga perlu kita perhatikan, aspek ini sangat penting dalam proses
belajar.
Keadaan
psikis meliputi faktor perhatian, kognitif, afektif dan motivasi. Faktor-faktor
ini erat hubungannya dengan teori kebutuhan dasar Maslow yang menyebutkan bahwa
manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan penghargaan, kebutuhan aktualisasi
diri, hasrat untuk tahu dan memahami.
Meningkatkan Kiat Belajar Siswa
Untuk meningkatkan kiat belajar siswa, yang perlu
diperhatikan adalah memahami situasi belajar, penguasaan alat-alat intelektual,
penggunaan unti-unit yang berarti, latihan yang aktif, kebaikan bentuk sistem,
efek penghargaan dan hukuman, tindakan-tindakan pedagogis, kapasitas dasar.
Selain yang disebutkan pada uraian di atas, agar
siswa dapat lebih merasa dekat kepada pendidik perlu adanya tindakan membangun
atmosfer belajar yang lebih hangat, terapkan pola pikir “memanusiakan manusia
muda”, sehingga kita dapat menjadi pendidik yang humanis. Dengan demikian kita
tidak hanya sekedar mengajar, tetapi juga mendidik. Kita memahami kebutuhan
mereka dan senantiasa untuk melengkapinya dengan cara mendengarkan mereka,
memberikan perhatian kepada mereka, dan memberikan solusi atas masalah yang
tengah mereka hadapi.
D.
SIMPULAN
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
siswa adalah situasi belajar, penguasaan alat-alat intelektual, latihan-latihan
yang terpencar, penggunaan unti-unit yang berarti, latihan yang aktif, kebaikan
bentuk sistem, efek penghargaan dan hukuman, tindakan-tindakan pedagogis,
kapasitas dasar. Akan tetapi, secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar siswa SMK yang saya gunakan untuk pengambilan sample dianataranya yaitu situasi belajar, kebaikan bentuk sistem,
latihan yang aktif, dan latihan-latihan yang terpencar. Faktor-faktor tersebut
lebih dominan mengingat dasar pembelajaran mereka adalah kejuruan dan lebih ke
arah keterampilan, seperti ketemapilan memasak dan menjahit.
Kiat meningkatkan proses belajar siswa yaitu dengan
kembali mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa lalu
menggunakan teori kebutuhan dasar Maslow sebagai dasar untuk memahami karakter
siswa dan melakukan pendekatan personal kepada siswa yang pada akhirnya
berpengaruh kepada hasil belajar siswa.
E.
DAFTAR PUSTAKA
·
Goble, Frank G.
1987. Mazhab Ketiga. Yogyakarta: Kanisius.
·
Mustaqim, H.
2008. Psikologi Pendidikan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar