Jumat, 31 Oktober 2014

Pantomim dan Kacang Kulit

Malam-malam mencari bahagia, jarak kutempuh dari kampung ke Jogja. Bahagia yang hendak kucari. Di sini, di kampusku ada acara Malam Kesenian. Berharap menemukan senyum, tawa, setidaknya itu yang ingin kulihat, sukur bisa kudapat.

Berharap kan merasa senang melihat adik-adik tingkat bergerak gemulai dengan kostum beriringan dengan gamelan jawa. Berharap kan bahagia berkumpul dan tertawa melihat teman satu kelas tampil dengan pantomimnya. Tapi, kenapa aku harus bahagia melihat pentas bisu? Di sini rupanya ku juga tengah membisu, bersembunyi di balik senyum palsu.

Sesekali kudongakkan kepala untuk melihat pantomim, memalingkan mata dari layar PC, mencoba menemukan tawa yang telah orang lain dapatkan. Tapi apa? Yang kulihat hanya bisu. Aku tak dapat merasa. Apa duniaku juga seperti demikian? Bergerak, berupa, berekspresi tapi tak satu pun dapat mendengarkanku?

Lalu kuambil kacang kulit. Setampah kacang kulit kering di sebelah kiriku. Mencoba menikmatinya. Mencoba memaknainya. Jangan sampai demikian. Lalu kulihat ekpresi mereka yang ada di sekitarku, mereka bersedih, melihat si pemeran utama tengah terpalu duka. Tapi apa, tidak ada rasa yang kudapat. Lalu bagaimana?

Mungkin ada baiknya jadi seorang aktor pantomim. Bergerak, berekspresi, tanpa suara tapi tetap dapat membuat tiap pasang mata yang melihat untuk tertawa. Tetap dapat mencipta bahagia. Bahagia di atas sandiwara, setidaknya memang itu profesi dia. Profesional. Lalu tetap ingat pelajaran si kacang, kulit telah melindunginya dan membuatnya dewasa. :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar