Malam-malam mencari bahagia, jarak kutempuh dari kampung ke Jogja. Bahagia yang hendak kucari. Di sini, di kampusku ada acara Malam Kesenian. Berharap menemukan senyum, tawa, setidaknya itu yang ingin kulihat, sukur bisa kudapat.
Berharap kan merasa senang melihat adik-adik tingkat bergerak gemulai dengan kostum beriringan dengan gamelan jawa. Berharap kan bahagia berkumpul dan tertawa melihat teman satu kelas tampil dengan pantomimnya. Tapi, kenapa aku harus bahagia melihat pentas bisu? Di sini rupanya ku juga tengah membisu, bersembunyi di balik senyum palsu.
Sesekali kudongakkan kepala untuk melihat pantomim, memalingkan mata dari layar PC, mencoba menemukan tawa yang telah orang lain dapatkan. Tapi apa? Yang kulihat hanya bisu. Aku tak dapat merasa. Apa duniaku juga seperti demikian? Bergerak, berupa, berekspresi tapi tak satu pun dapat mendengarkanku?
Lalu kuambil kacang kulit. Setampah kacang kulit kering di sebelah kiriku. Mencoba menikmatinya. Mencoba memaknainya. Jangan sampai demikian. Lalu kulihat ekpresi mereka yang ada di sekitarku, mereka bersedih, melihat si pemeran utama tengah terpalu duka. Tapi apa, tidak ada rasa yang kudapat. Lalu bagaimana?
Mungkin ada baiknya jadi seorang aktor pantomim. Bergerak, berekspresi, tanpa suara tapi tetap dapat membuat tiap pasang mata yang melihat untuk tertawa. Tetap dapat mencipta bahagia. Bahagia di atas sandiwara, setidaknya memang itu profesi dia. Profesional. Lalu tetap ingat pelajaran si kacang, kulit telah melindunginya dan membuatnya dewasa. :)
Hai world.. Diam itu berkarat kata dosen saya. Lalu saya berbikir keras mengenai itu. Kemudian saya buat persepsi sendiri, iya berkarat. Emas juga berkarat, tergantung berapa kadar karatnya, di situlah penentu berharga atau tidaknya logam itu.. Haa gitu sih.. saya emang kersa kepala. Quote lumayan juga nih,"If you want to be strong, learn how to fight alone."
Jumat, 31 Oktober 2014
Kamis, 30 Oktober 2014
Pastry Class
Masa-masa terakhirku di sekolah ini, saya lakukan apa yang
saya sukai. Ya, daripada hanya bengong tidak ada kerjaan di ruang piket, lebih
baik seperti ini.
Kamis Pahing, sekolah menengah di Jogja menggunakan kesempatan
ini untuk kembali nguri-uri budaya Jawi
dengan mengenakan kebaya. Saya merasa cantik jika mengenakan kebaya. Cantiknya putri
Jawa. Seharusnya gagrak jogja, berhubung adanya busana saya hanya gagrak Solo,
jadi ya gunakan apa adanya saja. Putri Solo membaur dengan masyarakat Jogja,
manis. Event kali ini dilipun oleh transtv. Mungkin ada sekelabat sosok si
Putri Solo ini di liputan wartawan itu. Haha.
Masuk ke kelas sebelas patiseri, kelas yang sebelumnya
membuat perasaan saya nano-nano. Kebetulan saja kelas ini sedang dalam keadaan
jam kosong, saya bebas melakukan hal apapun di sini. Saya bimbing mereka mengerjakan
tugas yang diberikan guru pamong saya, yang entah kemana bakal kosong juga
setelah waktu istirahat.
Saat saya membaur di belakang, tiba-tiba ada guru lain yang
masuk, berdiri di depan papan tulis lalu memberikan pengumuman untuk kelas ini
tentang tugas hari Rabu. Ternyata tidak sebentar beliau di sini, saya duduk
dibelakang dan berkamuflase menjadi murid bersama anak-anak didik saya. Rasanya
aneh, unik, dan lucu. Apa benar saya masih pantas menjadi murid SMA? Hahhhaha
saya menahan tawa di belakang. Apa ibu itu tidak menyadari keberadaan saya. Ya,
mungkin karena kami mengenakan kebaya sehingga rentan usia 6 tahun tidak
terlihat antara saya dengan mereka. Murid saya pun juga berpikir demikian.
Selama di kelas ini saya ling-lung, tak tahu arah
pembicaraan ibu guru dengan murid-murid saya. Danish vla, fruit puff, meat pie,
srikaya danish, sus macaroni, cream horn, dan masih banyak lagi. Kata-kata itu
berputar-putar di kepalaku. Murid-murid dan ibu itu asyik bertanya jawab
tentang rasa untuk isian kata-kata yang asing dan sulit saya cerna tadi, ada
gurih, manis, dan pedas, jujur itu begitu ngambang di otak saya. Dengan itu
saya jadi berpikir, wahhh anak-anak didik saya hebat, mereka begitu semangat
membicarakannya dan merencanakan strategi untuk mengerjakan tugas itu, di
samping itu saya juga malu karena saya begitu awam. Ya, memang orang hebat pada
bidangnya, mereka hebat dalam bidang itu.
Setelah berapa lama, mugkin satu jam pelajaran, ibu guru
menajukan sesi tanya jawab, di akhir sesi, saya angkat tangan. Ibu itu baru
mennyadari keberadaan saya dan tertawa. Yaa.. untunglah saya tidak ditegur
karena nyelonong menyusup jadi siswa kelas xi patiseri. Hhahha. Setelah semua
paham ibu itu berlalu dan anak-anak sibuk membahas tugas mereka.
Ditengah kebingungan saya, rupanya ada siswa yang dapat
membaca jalan pikiran saya, dia datang lalu duduk di sebelah saya. Ada pula
yang duduk melantai di bawah kursi yang saya duduki, agak merasa tidak enak,
masa mereka duduk di bawah saya di atas, tapi mereka enjoy, ya saya ikut enjoy
saja. “Jangan bingung ya, bu.. mikir apa?” Lalu perlahan mereka berceloteh
tentang danish ragout, veg chicken, choco chips, banana danish dan istilah baru
lainnya yang tidak sempat saya tuliskan dalam daftar kosa kata baru milik saya,
cara bercerita mereka sangat bersemangat sehingga terlalu cepat bagi saya untuk
menulis itu. Mereka berbagi ilmu kepada saya, tentang perbedaan danish dengan
puff. Danish dengan yest sedangkan puff tanpa yest, teksturnya berlapis. Lalu
ada yang menyahut, teksturnya seperti roti yang diberikan Isni kemarin. Ohh
yaa, itu.. Waah saya tambah ilmu, tambah banyak mengecap rasa juga di sini.
Kemarin Rabu (29/10), ada salah seorang murid yang memberikan sepotong roti
karya dia. Manis sekali dia, namanya Isni. Rasanya gurih, ada daging ayam dan
rasa mericanya saya suka. Masih banyak lagi rasa yang saya kecap di sini,
benar-benar memperkaya pengalaman saya.
Hari sebelumnya juga lidah saya mendapatkan pengalaman baru
tentang rasa, dua orang chef dari kampus sebelah datang membawa dua buah snack
boks. Di dalamnya ada Chocolate Klappy, Oregano Pizza Bread, Tropical Fruit
Soes, dan Risol kare. Rasanya nikmat, demi apa saja itu. Yaa, semoga saya dapat
mempertahankan orang-orang seperti mereka. Saya dapat belajar dari ini dan dari
mereka.
Saya akan menikmati ini, yaa tinggal beberapa hari lagi di
sini. Saya harus membentuk mood yang baik dan mewarnai hari dengan lebih baik
lagi. Terima kasih, kepada Sang Maha Pengasih telah memberikan berlimpah kasih
sayang di sini.
Do what you love, and love what you do. J
Jumat, 24 Oktober 2014
Senja dan Catatan Kecil
"Pagiku hilang, langit sudah
petang", ahh itu terlalu mendayu-ndayu. Tetapi hari memang tengah berjalan
menuju petang. Masa yang mulanya muda kini telah menua, ya rasanya seperti
demikian. Sadar akan waktu bahwa sebentar lagi ku kan membawa kaki ini melangkah
ke luar dari gerbang sekolah. Masa praktikku di sekolah ini hampir berakhir.
Planning agaknya sedikit meleset, kucanangkan hari ini mengisi di salah satu
kelas dengan materi Teks Cerita Ulang, cara gampangnya, ini adalah teks yang
hampir mirip seperti menulis diary. Tulisan yang memuat orientasi, even, dan
reorientasi. Karena suatu hal saya tidak dapat masuk di kelas tersebut, padahal
sudah kuusahakan memacu Vario dan
berlari begitu sampai di halaman parkir. Tadinya, di masa akhirku ini akan
kuceritakan masa bahagia saya di kelas ini juga, kekonyolan, ketakutan, hingga
peristiwa misteri, tapi apa daya waktu sekali lagi tak mampu ku rayu.
Saya merampok jam guru matematika, jam yang terjadwal setelah pelajaran saya. Herannya, guru itu justru mempersilakan saya merampok jatah mengajarnya. Lalu apa yang saya lakukan? Saya gunakan momen ini untuk foto bersama dengan mereka. Benar-benar menyenangkan. Rasanya seperti kembali muda 5 tahun yang lalu. hahha. Lalu apa lagi? Saya bagikan mereka sepotong kertas untuk mereka isi kritik, saran, pesan, atau apa saja mengenai saya. Melayang membaca coretan tangan mereka, merasa haru, ada yang saya amini dan ada mimpi-mimpi konyol mereka yang saya harap itu nyata. Yah, seperti itu rasanya.
"Terima kasih ya.. buat pengalaman dan bimbingan selama di sini. Semoga ilmu yg mbak berikan dapat bermanfaat bagi kami. Semoga mbaknya juga makin sukses ya.. Sampai jumpa lain waktu ^^ Arigato Gozainasu :D ." Non Nime. Amin ya deekk :)
"Kritik: Mb Fitri agak sering telat. Saran: Mb Fitri jadi guru B.Indo yg lebih baik lagi ya, kalau bisa besok daftar jadi guru di SMK* ^^ " Non Nime juga, tapi ini objektif, saya menghargai itu. Kalau saya kembali ke sini kalian saat itu pasti sudah pada lulus, dek. :)
"Ngga bisa diungkapin buu.. Pokoknya seneng, ngga bisa diungkapin. Pokoknya ngga rela kalo mbak pergi. Ohh iya, janji mba, kalo nikah undang kita-kita. we <3 u .. bu Fitria.. Jangan kapok ngajar kita." :D Saya geli membaca tulisan ini. Sekali pun saya tidak merasa kapok mengajar kalian.
"Thankyou so much . .. just for you (gambar mawar :D).
Mbak'e Ayu tenin. Semoga gak menyesal kenal dengan kami. Tetap tersenyum bahagia (Y) mbak. Jangan lupakan kami, tapi lupaka kejelekan dari kami.
Lulus skripsi. Makin langgeng sama Mas Pacar. Maafin kami (Y) mbake. Kenanglah kami mbak Fit!
Kalau nikah sama mas pacar (Amin) jangan lupa undangannya yee... " Ini anak, masih kecil mikirnya sampai nikah-nikah. :'D
"Kritik: Mba Fitri kurang tegas, dan kalau berbicara kurang keras. Saran: Harusnya Mb. Fitri lebih tegas dari muridnya. Kesan: Mb. Fitri ga pernah marah, ramah, dan juga murah senyum ({hugh}). Pasti besok kangen deh sama Mb. Fitri. Love Mb. Fitria ({hugh})". Terima kasih adekk, saya bisa memperbaiki itu.
"Pesan dan Kesan: untuk mbak Fitria? Ini dia PPL yang paing baik! Bukannya sok ngebaikin, tapi emang benar kok ^^. Mbak Fitria juga bisa berbaur dengan kami yang (maaf) ramai banget. Pas pelajaran juga ribut, sibuk sendiri-sendiri, tapi mbak Fitria tetap mengajar pelajaran seperti biasa. Terima kasih juga untuk bantuannya selama beberapa bulan ini! Kami sangat terbantu sekali karenanya.
Maafkan kami jikalau sering mengabaikan mbak Fitria saat mengajar kami, mungkin kami sering melakukan hal-hali yang menyimpang dari pembelajaran. Sesungguhnya kami juga bisa tenang kok mbak.
Terima kasih juga telah memberikan informasi tentang Divapress! Nah, kalau ini pasti mbak Fitria tahu kan siapa yang memberikan pesan dan kesan ini? (Ada tulisan jepangnya)" Terima kasih adek, saya kenal dengan tulisan tangan kamu tanpa sebutkan kata kuci itu. Ya, Earleane, seorang siswi yang rapi tulisannya dan selalu memperhatikan penjelasan saya. Terus berkarya, adek. Kembangkan bakatmu menulis, siapa tahu karya kamu bisa saya baca dalam bentuk novel. :)
Masih banyak catatan kecil anak didik saya, tapi ada satu yang membuat saya tergelitik, tertawa, bahkan haru. Fantasi mereka, ya! Ada salah seorang siswa yang menuangkan pikirannya dalam secarik kertas catatan kecil ini. (Susah digambarkan dengan kata-kata) Inisial: K. Mimpi mereka begitu jauh, saya tidak tahu harus bagaimana. Saya hanya bisa mengamini mengingat keadaan hidup tak semudah ketika kita merangkai mimpi.
Apapun yang mereka tuliskan kepada saya itu mebuat saya kuat, membuat saya dapat bercermin. Yah, bercermin. Ada yang harus saya ubah dengan usaha saya tampil tiga bulan ini.
Senja mulai merayu, matahari mulai ngantuk tampaknya. Sesi membimbing siswa menerbitkan buletin hampir selesai. Saya merasa lebih muda rasanya. hahhahha. Terima kasih ya.. Terima kasih pengertian teman yang selalu ada di samping saya, yang mengerti, dan membiarkan saya berceloteh selama ini sedangkan ia ibuk membaur dengan anak-anak. Saya memang tidak berbakat dalam urusan penerbitan buletin, saya hanya bisa mengoceh di dunia ini. Over all, it's make me happy. :D
Saya merampok jam guru matematika, jam yang terjadwal setelah pelajaran saya. Herannya, guru itu justru mempersilakan saya merampok jatah mengajarnya. Lalu apa yang saya lakukan? Saya gunakan momen ini untuk foto bersama dengan mereka. Benar-benar menyenangkan. Rasanya seperti kembali muda 5 tahun yang lalu. hahha. Lalu apa lagi? Saya bagikan mereka sepotong kertas untuk mereka isi kritik, saran, pesan, atau apa saja mengenai saya. Melayang membaca coretan tangan mereka, merasa haru, ada yang saya amini dan ada mimpi-mimpi konyol mereka yang saya harap itu nyata. Yah, seperti itu rasanya.
"Terima kasih ya.. buat pengalaman dan bimbingan selama di sini. Semoga ilmu yg mbak berikan dapat bermanfaat bagi kami. Semoga mbaknya juga makin sukses ya.. Sampai jumpa lain waktu ^^ Arigato Gozainasu :D ." Non Nime. Amin ya deekk :)
"Kritik: Mb Fitri agak sering telat. Saran: Mb Fitri jadi guru B.Indo yg lebih baik lagi ya, kalau bisa besok daftar jadi guru di SMK* ^^ " Non Nime juga, tapi ini objektif, saya menghargai itu. Kalau saya kembali ke sini kalian saat itu pasti sudah pada lulus, dek. :)
"Ngga bisa diungkapin buu.. Pokoknya seneng, ngga bisa diungkapin. Pokoknya ngga rela kalo mbak pergi. Ohh iya, janji mba, kalo nikah undang kita-kita. we <3 u .. bu Fitria.. Jangan kapok ngajar kita." :D Saya geli membaca tulisan ini. Sekali pun saya tidak merasa kapok mengajar kalian.
"Thankyou so much . .. just for you (gambar mawar :D).
Mbak'e Ayu tenin. Semoga gak menyesal kenal dengan kami. Tetap tersenyum bahagia (Y) mbak. Jangan lupakan kami, tapi lupaka kejelekan dari kami.
Lulus skripsi. Makin langgeng sama Mas Pacar. Maafin kami (Y) mbake. Kenanglah kami mbak Fit!
Kalau nikah sama mas pacar (Amin) jangan lupa undangannya yee... " Ini anak, masih kecil mikirnya sampai nikah-nikah. :'D
"Kritik: Mba Fitri kurang tegas, dan kalau berbicara kurang keras. Saran: Harusnya Mb. Fitri lebih tegas dari muridnya. Kesan: Mb. Fitri ga pernah marah, ramah, dan juga murah senyum ({hugh}). Pasti besok kangen deh sama Mb. Fitri. Love Mb. Fitria ({hugh})". Terima kasih adekk, saya bisa memperbaiki itu.
"Pesan dan Kesan: untuk mbak Fitria? Ini dia PPL yang paing baik! Bukannya sok ngebaikin, tapi emang benar kok ^^. Mbak Fitria juga bisa berbaur dengan kami yang (maaf) ramai banget. Pas pelajaran juga ribut, sibuk sendiri-sendiri, tapi mbak Fitria tetap mengajar pelajaran seperti biasa. Terima kasih juga untuk bantuannya selama beberapa bulan ini! Kami sangat terbantu sekali karenanya.
Maafkan kami jikalau sering mengabaikan mbak Fitria saat mengajar kami, mungkin kami sering melakukan hal-hali yang menyimpang dari pembelajaran. Sesungguhnya kami juga bisa tenang kok mbak.
Terima kasih juga telah memberikan informasi tentang Divapress! Nah, kalau ini pasti mbak Fitria tahu kan siapa yang memberikan pesan dan kesan ini? (Ada tulisan jepangnya)" Terima kasih adek, saya kenal dengan tulisan tangan kamu tanpa sebutkan kata kuci itu. Ya, Earleane, seorang siswi yang rapi tulisannya dan selalu memperhatikan penjelasan saya. Terus berkarya, adek. Kembangkan bakatmu menulis, siapa tahu karya kamu bisa saya baca dalam bentuk novel. :)
Masih banyak catatan kecil anak didik saya, tapi ada satu yang membuat saya tergelitik, tertawa, bahkan haru. Fantasi mereka, ya! Ada salah seorang siswa yang menuangkan pikirannya dalam secarik kertas catatan kecil ini. (Susah digambarkan dengan kata-kata) Inisial: K. Mimpi mereka begitu jauh, saya tidak tahu harus bagaimana. Saya hanya bisa mengamini mengingat keadaan hidup tak semudah ketika kita merangkai mimpi.
Apapun yang mereka tuliskan kepada saya itu mebuat saya kuat, membuat saya dapat bercermin. Yah, bercermin. Ada yang harus saya ubah dengan usaha saya tampil tiga bulan ini.
Senja mulai merayu, matahari mulai ngantuk tampaknya. Sesi membimbing siswa menerbitkan buletin hampir selesai. Saya merasa lebih muda rasanya. hahhahha. Terima kasih ya.. Terima kasih pengertian teman yang selalu ada di samping saya, yang mengerti, dan membiarkan saya berceloteh selama ini sedangkan ia ibuk membaur dengan anak-anak. Saya memang tidak berbakat dalam urusan penerbitan buletin, saya hanya bisa mengoceh di dunia ini. Over all, it's make me happy. :D
Kamis, 23 Oktober 2014
Sepiring Salad
Sepiring makan siang dan segelas air
minum yang begitu simple tetapi penuh arti. Betapa tidak, karena makan siang
ini saya berani duduk di kantin menikmatinya seorang diri. Yah saya
menikmatinya, mungkin bagi sebagian orang akan ragu dapat melakukan ini.
Tak pernah sekalipun kupijakkan kaki seorang diri di tengah keramaian manusia untuk sepiring salad dengan saus kacang yang disiramkan di atasnya. Berdua, berbanyak atau pun seorang diri ternyata rasanya tetap sama, karena isinya juga tidak berbeda. Kupat, tahu, bayam, kubis, tauge, kacang panjang yang direbus, sepotong tomat, disiram dengan cairan gurih berwarna coklat dan bertabur sledri dan bawang goreng, cita rasa Indonesia sekali.
Namanya juga anak sastra, sekali pun kurasa belum sepenuhnya sastrawan sejati, seiring berjalannya waktu sepiring makan siang pun kini masak menjadi sepiring filosofi. Kupat. Yah, sumber karbohidrat dari menu ini. Ia hadir setelah begitu banyak waktu dan keringat yang dikeluarkan untuk menghasilkan sajian ini. Ia harus benar-benar solid, dari butiran beras yang saling bersinggungan hingga berakhir menjadi segumpal nasi yang kenyal.
Lalu ada lagi, tahu, yang sudah kita tahu bahan makanan ini kaya akan protein yang baik untuk pertumbuhan manusia. Tapi, apa kita hanya cukup tahu dengan hal itu? Dengarkan sang sastrawi kecil ini. Ia terbentuk dari butiran kacang kedelai yang awal mulanya benar-benar keras. Ya, keras. Saya tak pernah berpikir untuk menggigitnya ketika masih mentah, tidak akan. Ia memang keras, tapi dengan usaha yang begitu keras juga ia bisa berubah menjadi benda yang benar-benar lembut dan rapuh. Maka dari itu dari sebuah benda yang amat rapuh itu sang empunya mengolah agar ia tak lagi rapuh, cukup lembut saja. Gumpalan putih ia masukkan ke dalam minyak dengan temperatur yang pas. Hingga pada akhirnya berubah kecoklatan dan disesuaikan ukurannya dengan mata pisau agar pantas untuk disajikan. Sempurna.
Tidak berhenti di situ saja. Lalu bagaimana dengan bayam, kubis, tauge, tomat dan kacang panjang yang direbus? Mereka adalah sekumpulan hasil bumi dengan fungsi masing-masing bagi kebaikan metabolisme tubuh manusia. Mereka melengkapi kekurangan kita, mereka juga memenuhi kebutuhan kita. Mereka mewarnai tampilan sajian ini ketika masuk dalam proses plating, hijau, putih, kuning, dan merah. Cantik.
Hei, kita melupakan si tomat. Ia tak hanya cantik. Ia memberi rasa. Segar dan asam. Mengingat ini saya jadi ingin menggigitnya, sayangnya di depan saya saat ini hanya ada PC dan sekotak tisu di atas meja hall kampus saya. Sayang sekali, ya? Hahhaha tak apa. Akan kukigigit dia begitu saya sampai di rumah. Ya, dia segar, membuat penikmat sajian ini lebih bergairah untuk menikmatinya. Ia pun asam, tapi asam pada takarannya. Seperti hidup ini, tidak mungkin kita selalu menemui momen-momen manis saja. Ia menyadarkan hal itu kepada penikmatnya. Coba pahami itu jika Anda belum menyadarinya. Sepiring sajian ini akan terasa lebih luar biasa.
Ada satu point yang sangat berarti dalam hidang itu. Yah benar, sausnya yang kecoklatan yang terbuat dari kacang, gula jawa, garam, dan caba rawit. Hmmm nyamm. . . Hei, itu dia, kacang! Tahu peribahasa ini "kacang lupa kulitnya"? Jangan seperti itu, ingat. Dengan makan hidangan ini penikmatnya akan senantiasa diingatkan. Siapa pun yang pernah masuk dalam hidup kita, seperti apa pun keadaan yang terjadi antara kita dengan orang itu, jangan sekalipun kita lupakan kebaikannya. Ia pernah ada disisi kita, mencoba melindungi, dan mendewasakan kita hingga sampai pada masanya, kita siap dilepas menjadi sebutir kacang yang memliki suratan takdir beraneka macam.
Penikmatnya justru sadar betul, di dalam sausnya ada gula jawa. Ya, budaya jawa yang welas asih, ngayomi, dan senantiasa bertutur manis. Dengan kesadaran juga kita dapat memesan seberapa tingkat kepedasan lotek yang akan kita nikmati. Kita pasti siap, karena kita yang memutuskan pilihan itu. Tidak ada seorang pun yang mengatur hal ini, ini adalah pilihan kita. Ya, setidaknya itu yang ditawarkan penjual lotek yang menjajakkan sajiannya di kampus ini. Kampus di tengah kota yang berbudaya. Kota yang selalu istimewa, yang sering hilang sardarku karena telah mengabiskan banyak waktu di sini.
Yah, salad yang istimewa, karena kita menuangkan arti di atasnya dan menyadari itu disetiap suapnya. Salad yang membuatku kuat. Karena makan siang seperti ini adalah yang pertama kali saya lakukan. Tidak ada rasa menyesal, yang saya rasakan hanya kenyang dan lega. Tidak perlu ada kata maaf, karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya bersyukur dapat menikmati rasa yang seperti ini. Sungguh-sungguh menikmati dan mengerti. The taste a plate of salad.
Tak pernah sekalipun kupijakkan kaki seorang diri di tengah keramaian manusia untuk sepiring salad dengan saus kacang yang disiramkan di atasnya. Berdua, berbanyak atau pun seorang diri ternyata rasanya tetap sama, karena isinya juga tidak berbeda. Kupat, tahu, bayam, kubis, tauge, kacang panjang yang direbus, sepotong tomat, disiram dengan cairan gurih berwarna coklat dan bertabur sledri dan bawang goreng, cita rasa Indonesia sekali.
Namanya juga anak sastra, sekali pun kurasa belum sepenuhnya sastrawan sejati, seiring berjalannya waktu sepiring makan siang pun kini masak menjadi sepiring filosofi. Kupat. Yah, sumber karbohidrat dari menu ini. Ia hadir setelah begitu banyak waktu dan keringat yang dikeluarkan untuk menghasilkan sajian ini. Ia harus benar-benar solid, dari butiran beras yang saling bersinggungan hingga berakhir menjadi segumpal nasi yang kenyal.
Lalu ada lagi, tahu, yang sudah kita tahu bahan makanan ini kaya akan protein yang baik untuk pertumbuhan manusia. Tapi, apa kita hanya cukup tahu dengan hal itu? Dengarkan sang sastrawi kecil ini. Ia terbentuk dari butiran kacang kedelai yang awal mulanya benar-benar keras. Ya, keras. Saya tak pernah berpikir untuk menggigitnya ketika masih mentah, tidak akan. Ia memang keras, tapi dengan usaha yang begitu keras juga ia bisa berubah menjadi benda yang benar-benar lembut dan rapuh. Maka dari itu dari sebuah benda yang amat rapuh itu sang empunya mengolah agar ia tak lagi rapuh, cukup lembut saja. Gumpalan putih ia masukkan ke dalam minyak dengan temperatur yang pas. Hingga pada akhirnya berubah kecoklatan dan disesuaikan ukurannya dengan mata pisau agar pantas untuk disajikan. Sempurna.
Tidak berhenti di situ saja. Lalu bagaimana dengan bayam, kubis, tauge, tomat dan kacang panjang yang direbus? Mereka adalah sekumpulan hasil bumi dengan fungsi masing-masing bagi kebaikan metabolisme tubuh manusia. Mereka melengkapi kekurangan kita, mereka juga memenuhi kebutuhan kita. Mereka mewarnai tampilan sajian ini ketika masuk dalam proses plating, hijau, putih, kuning, dan merah. Cantik.
Hei, kita melupakan si tomat. Ia tak hanya cantik. Ia memberi rasa. Segar dan asam. Mengingat ini saya jadi ingin menggigitnya, sayangnya di depan saya saat ini hanya ada PC dan sekotak tisu di atas meja hall kampus saya. Sayang sekali, ya? Hahhaha tak apa. Akan kukigigit dia begitu saya sampai di rumah. Ya, dia segar, membuat penikmat sajian ini lebih bergairah untuk menikmatinya. Ia pun asam, tapi asam pada takarannya. Seperti hidup ini, tidak mungkin kita selalu menemui momen-momen manis saja. Ia menyadarkan hal itu kepada penikmatnya. Coba pahami itu jika Anda belum menyadarinya. Sepiring sajian ini akan terasa lebih luar biasa.
Ada satu point yang sangat berarti dalam hidang itu. Yah benar, sausnya yang kecoklatan yang terbuat dari kacang, gula jawa, garam, dan caba rawit. Hmmm nyamm. . . Hei, itu dia, kacang! Tahu peribahasa ini "kacang lupa kulitnya"? Jangan seperti itu, ingat. Dengan makan hidangan ini penikmatnya akan senantiasa diingatkan. Siapa pun yang pernah masuk dalam hidup kita, seperti apa pun keadaan yang terjadi antara kita dengan orang itu, jangan sekalipun kita lupakan kebaikannya. Ia pernah ada disisi kita, mencoba melindungi, dan mendewasakan kita hingga sampai pada masanya, kita siap dilepas menjadi sebutir kacang yang memliki suratan takdir beraneka macam.
Penikmatnya justru sadar betul, di dalam sausnya ada gula jawa. Ya, budaya jawa yang welas asih, ngayomi, dan senantiasa bertutur manis. Dengan kesadaran juga kita dapat memesan seberapa tingkat kepedasan lotek yang akan kita nikmati. Kita pasti siap, karena kita yang memutuskan pilihan itu. Tidak ada seorang pun yang mengatur hal ini, ini adalah pilihan kita. Ya, setidaknya itu yang ditawarkan penjual lotek yang menjajakkan sajiannya di kampus ini. Kampus di tengah kota yang berbudaya. Kota yang selalu istimewa, yang sering hilang sardarku karena telah mengabiskan banyak waktu di sini.
Yah, salad yang istimewa, karena kita menuangkan arti di atasnya dan menyadari itu disetiap suapnya. Salad yang membuatku kuat. Karena makan siang seperti ini adalah yang pertama kali saya lakukan. Tidak ada rasa menyesal, yang saya rasakan hanya kenyang dan lega. Tidak perlu ada kata maaf, karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya bersyukur dapat menikmati rasa yang seperti ini. Sungguh-sungguh menikmati dan mengerti. The taste a plate of salad.
Langganan:
Komentar (Atom)