Kamis, 23 Oktober 2014

Sepiring Salad

Sepiring makan siang dan segelas air minum yang begitu simple tetapi penuh arti. Betapa tidak, karena makan siang ini saya berani duduk di kantin menikmatinya seorang diri. Yah saya menikmatinya, mungkin bagi sebagian orang akan ragu dapat melakukan ini.

Tak pernah sekalipun kupijakkan kaki seorang diri di tengah keramaian manusia untuk sepiring salad dengan saus kacang yang disiramkan di atasnya. Berdua, berbanyak atau pun seorang diri ternyata rasanya tetap sama, karena isinya juga tidak berbeda. Kupat, tahu, bayam, kubis, tauge, kacang panjang yang direbus, sepotong tomat, disiram dengan cairan gurih berwarna coklat dan bertabur sledri dan bawang goreng, cita rasa Indonesia sekali.

Namanya juga anak sastra, sekali pun kurasa belum sepenuhnya sastrawan sejati, seiring berjalannya waktu sepiring makan siang pun kini masak menjadi sepiring filosofi. Kupat. Yah, sumber karbohidrat dari menu ini. Ia hadir setelah begitu banyak waktu dan keringat yang dikeluarkan untuk menghasilkan sajian ini. Ia harus benar-benar solid, dari butiran beras yang saling bersinggungan hingga berakhir menjadi segumpal nasi yang kenyal.

Lalu ada lagi, tahu, yang sudah kita tahu bahan makanan ini kaya akan protein yang baik untuk pertumbuhan manusia. Tapi, apa kita hanya cukup tahu dengan hal itu? Dengarkan sang sastrawi kecil ini. Ia terbentuk dari butiran kacang kedelai yang awal mulanya benar-benar keras. Ya, keras. Saya tak pernah berpikir untuk menggigitnya ketika masih mentah, tidak akan. Ia memang keras, tapi dengan usaha yang begitu keras juga ia bisa berubah menjadi benda yang benar-benar lembut dan rapuh. Maka dari itu dari sebuah benda yang amat rapuh itu sang empunya mengolah agar ia tak lagi rapuh, cukup lembut saja. Gumpalan putih ia masukkan ke dalam minyak dengan temperatur yang pas. Hingga pada akhirnya berubah kecoklatan dan disesuaikan ukurannya dengan mata pisau agar pantas untuk disajikan. Sempurna.

Tidak berhenti di situ saja. Lalu bagaimana dengan bayam, kubis, tauge, tomat dan kacang panjang yang direbus? Mereka adalah sekumpulan hasil bumi dengan fungsi masing-masing bagi kebaikan metabolisme tubuh manusia. Mereka melengkapi kekurangan kita, mereka juga memenuhi kebutuhan kita. Mereka mewarnai tampilan sajian ini ketika masuk dalam proses plating, hijau, putih, kuning, dan merah. Cantik.

Hei, kita melupakan si tomat. Ia tak hanya cantik. Ia memberi rasa. Segar dan asam. Mengingat ini saya jadi ingin menggigitnya, sayangnya di depan saya saat ini hanya ada PC dan sekotak tisu di atas meja hall kampus saya. Sayang sekali, ya? Hahhaha tak apa. Akan kukigigit dia begitu saya sampai di rumah. Ya, dia segar, membuat penikmat sajian ini lebih bergairah untuk menikmatinya. Ia pun asam, tapi asam pada takarannya. Seperti hidup ini, tidak mungkin kita selalu menemui momen-momen manis saja. Ia menyadarkan hal itu kepada penikmatnya. Coba pahami itu jika Anda belum menyadarinya. Sepiring sajian ini akan terasa lebih luar biasa.

Ada satu point yang sangat berarti dalam hidang itu. Yah benar, sausnya yang kecoklatan yang terbuat dari kacang, gula jawa, garam, dan caba rawit. Hmmm nyamm. . . Hei, itu dia, kacang! Tahu peribahasa ini "kacang lupa kulitnya"? Jangan seperti itu, ingat. Dengan makan hidangan ini penikmatnya akan senantiasa diingatkan. Siapa pun yang pernah masuk dalam hidup kita, seperti apa pun keadaan yang terjadi antara kita dengan orang itu, jangan sekalipun kita lupakan kebaikannya. Ia pernah ada disisi kita, mencoba melindungi, dan mendewasakan kita hingga sampai pada masanya, kita siap dilepas menjadi sebutir kacang yang memliki suratan takdir beraneka macam.

Penikmatnya justru sadar betul, di dalam sausnya ada gula jawa. Ya, budaya jawa yang welas asih, ngayomi, dan senantiasa bertutur manis. Dengan kesadaran juga kita dapat memesan seberapa tingkat kepedasan lotek yang akan kita nikmati. Kita pasti siap, karena kita yang memutuskan pilihan itu. Tidak ada seorang pun yang mengatur hal ini, ini adalah pilihan kita. Ya, setidaknya itu yang ditawarkan penjual lotek yang menjajakkan sajiannya di kampus ini. Kampus di tengah kota yang berbudaya. Kota yang selalu istimewa, yang sering hilang sardarku karena telah mengabiskan banyak waktu di sini.

Yah, salad yang istimewa, karena kita menuangkan arti di atasnya dan menyadari itu disetiap suapnya. Salad yang membuatku kuat. Karena makan siang seperti ini adalah yang pertama kali saya lakukan. Tidak ada rasa menyesal, yang saya rasakan hanya kenyang dan lega. Tidak perlu ada kata maaf, karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya bersyukur dapat menikmati rasa yang seperti ini. Sungguh-sungguh menikmati dan mengerti. The taste a plate of salad.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar