Pada dasarnya tujuan dari fabrikasi sendiri adalah menghasilkan diri seseorang agar siap terjun dalam dunia kerja dan lebih condong kearah keberhasilannya dalam hal finansial. Masyarakat awam pada umumnya mungkin belum memahami istilah tersebut. Karena istilah ini baru diperkenalkan dalam lingkup pendidikan di perguruan tinggi. Fabrikasi berbeda dengan pendidikan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, fabrikasi adalah sebuah bentuk pelatihan dimana nantinya peserta yang mendapatkan pelatihan akan siap terjun dan mencapai kemapanan finansial. Sepintas, memang dampak dari fabrikasi terlihat positif, karena mematangkan keterampilan orang dalam bekerja lebih tinggi. Namun, jika kita telaah lebih dalam ternyata fabrikasi tidak hanya memberikan efek positif saja. Sebelum kita menelusuri dapak apa saja yang timbul dari fabrikasi, kita lihat dulu bentuk-bentuk fabrikasi. Pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu SMA dan SMK/STM. SMA merupakan penerapan pendidikan, karena peserta didik yang memilih melanjutkan sekolah ini belum diberikan keterampilan bekerja. Tujuan dari pendidikan adalah untuk menghasilkan seseorang yang dapat menerima ilmu pengetahuan dan dapat mengembangkan ilmu tersebut serta pengembangan karakternya. Sedangkan SMK/STM memberikan keterampilan serta memberi kesempatan bagi pesertadidik terjun lansung dalam dunia kerja, yang sering kita sebut dengan istilah Praktek Kerja Lapangan. Tiga tahun belakangan ini pemerintah cenderung mengarahkan calon pesertadidik Sekolah Lanjutan Tingkat Atas untuk memilih SMK sebagai sekolah lanjutannya. Usaha itu dapat dilihat dari beberapa iklan yang menawarkan berbagai keunggulan yang dimiliki sekolah tersebut. Hampir tidak terdengar iklan yang menyarankan agar pesertadidik memilih untuk mendapat dan mengengembangkan ilmu pengetahuan serta mengembangan karakter mereka. Sudah jelas, dengan dukungan dari pemerintah, serta keuntungan yang diperoleh jika memilih sekolah kejuruan maka orangtua akan lebih senang jika putra putri mereka melanjutkan di sekolah kejuruan. Secara, dengan ini akan menghemat waktu karena sudah jelas setelah lulus anak mereka sudah memiliki keterampilan kerja. Namun terlepas dari itu semua ada satu kelemahannya yaitu adanya kemungkinan perkembangan karakter mereka kurang. Semakin banyaknya fabrikasi, terlebih jika sekolah kejuruan membuka ruang baru untuk menambah pesertadidik mereka maka dampaknya akan terasa pada sekolah umum. Masyarakat akan cenderung memilih sekolah yang memberikan keterampilan kerja. Memang benar, ini berarti sekolah kejuruan membuka kesempatan yang lebih luas kepada peserta didik untuk mendapatkan keterampilan kerja. Jika kasusnya demikian, yang mendapatkan dampak buruk adalah sekolah umum. Mengapa demikian. Mereka akan lebih memilih ke sekolah kejuruan dan sekolah tersebut akan menyerap lebih banyak peserta didik baru. Kasus ini membuat proses pendidikan menjadi ajang bisnis baru. Mengingat bahwa lulusan di Indonesia yang menempuh pendidikan sains sangat kurang, harusnya ada peraturan baru yang mengendalikan jumlah siswa dalam sebuah sekolah. Misalkan saja setiap sekolah kejuruan diberikan batas kuota maksimal untuk setiap jurusan, dan yang akan masuk dalam kelas-kelas tersebut akan melalui proses seleksi. Dengan demikian maka setidaknya dapat membantu pemerataan siswa sekolah lanjutan dengan sekolah kejuruan. Maka bukan tidak mungkin dari kebijakan ini secara tidak langsung akan menambah jumlah lulusan yang menempuh pendidikan sains.
Hai world.. Diam itu berkarat kata dosen saya. Lalu saya berbikir keras mengenai itu. Kemudian saya buat persepsi sendiri, iya berkarat. Emas juga berkarat, tergantung berapa kadar karatnya, di situlah penentu berharga atau tidaknya logam itu.. Haa gitu sih.. saya emang kersa kepala. Quote lumayan juga nih,"If you want to be strong, learn how to fight alone."
Rabu, 23 Januari 2013
Selasa, 22 Januari 2013
Refleksi Mata Kuliah Psikologi Remaja
Kompetensi:
Pemahaman
hakekat remaja sebagai pribadi yang berkembang serta kedudukan remaja dalam
rentang perkembangan manusia.
Pada
awal perkuliahan, kami mempelajari konsep dasar dari psikologi remaja.
Diantaranya kami memperoleh pengertian tentang siapa remaja itu serta apa yang
dimaksud dengan psikologi. Kami membahas beberapa topik mengenai pengertian dan
batasan remaja, stereotip tentang remaja, tahap-tahap perkembanganmanusi dan
khususnya perkembangan remaja, prinsip perkembangan, serta teori-teori
perkembangan. Di sini kami lebih mendalami rentan usia remaja awal hingga
remaja akhir, yaitu dimulai dari usia sebelas tahun hingga delapan belas tahun
untuk remaja puteri, dan usia tiga belas tahun hingga usia sembilan belas tahun
untuk remaja putera. Sebelum akhir perkuliahan dosen menginstruksikan kami
untuk membuat sebuah kelompok yang terdiri dari tiga hingga lima orang untuk
membahas kompetensi dasar berikutnya pada pertemuan selanjutnya.
Kompetensi:
Pemahaman
mengenai perkembangan fisik remaja serta permasalahannya.
Minggu
berikutnya setelah kami mendapatkan pengantar sebagai perkenalan mata kuliah,
kami membahas beberapa topik mengenai hakekat perkembangan fisik, dan
karakteristik perubahan fisik remaja. Pada perkuliahan ini kami memperoleh
informasi mengenai apa saja perubahan fisik yang terjadi pada remaja,
diantaranya perubahan pada mulai aktifnya hormon-hormon reproduksi pada remaja,
perubahan area dada, mulai berfungsinya organ vital, dan adanya perubahan pada
tinggi badan serta perubahan suara yang terjadi baik pada remaja putra maupun
putri.
Melanjutkan
kompetensi yang sama, presentator pada minggu berikutnya membahas topik
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik remaja dan topik
mengenai isu-isu terkait dengan perkembangan fisik dalam konteks budaya. Dalam
presentasi dijelaskan bahwa ada banyak faktor yag mempengaruhi perkembangan
fisik remaja, diantaranya yaitu faktor ekonomi, faktor kecukupan gizi, faktor
lingkungan yang permisif, faktor kesehatan lingkungan, dan sebagainya. Rupanya
ada banyak isu yang terkait mengenai topik tersebut, diantaranya adalah isu
bahwa makanan cepatsaji membuat pertumbuhan fisik remaja tidak normal, yang
dampaknya membuat obesitas dan majunya masa usia remaja seseorang. Lingkngan
yang sehat sangat mendukung perkembangan remaja ditambah dengan asupan gizi
yang seimbang akan sangan mendukung perkembangan remaja.
Kompetensi:
Pemahaman
mengenai perkembangan kognisi remaja serta permasalahannya.
Pada
kompetensi ini topik yang dibahas oleh presentator yaitu hakekat perkembangan
kognisi remaja, karakteristik perkembangan kognisi remaja, dan faktor yang
mempengaruhi perkambangan kognisi remaja, dijelaska bahwa perkembangan kognisi
adalah pola gerakan atau perubahan dalam proses memperoleh pengetahuan. Menurut
Piaget menekankan bahwa remaja terdorong untuk memahami dunianya karena
tindakannya itu merupakan penyesuaian diri biologis. Sedangkan pada
karakteristik perkembangan kognisi remaja pada usia sebelas hingga lima belas
tahun remaja memasuki tahap Pemikiran Operasinal Formal, kemudian pada usia
lima belas taun masuk pada tahap Pemikiran Operasional Formal Awal, memasuki
usia delapan belas tahun remaja ada pada tahap Pemikiran Operasional Formal
Akhir. Faktor yang mempengaruhi perkambangan kognisi remaja adalah sekma,Adaptasi,
dan Organisasi.
Kompetensi:
Pemahaman
mengenai perkembangan emosi remaja serta permasalahannya.
Pada
kesempatan ini presentator menyajikan topik diantaranya hakekat perkambangan
emosi remaja, serta karakteristik perkembangan emosi dan ciri-ciri kematangan
emosi remaja. Menurut Chaplin mendefinisikan bahwa emosiadlah suatu keadaan
yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang
mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Bentuk emosi diantaranya adalah
amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu.
Masih
dalam kompetensi yang sama presentator selanjutnya mencoba memaparkan apa saja
faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja dan isu-isu terkiat
dengan perkembangan emosi dalam konteks budaya. Jadi yang saya tangkap mengenai
topik faktor-faktor pengaruh perkembangan emosi remaja adalah adanya
penyesuaian diri remaja terhadap perubahan pada fisik mereka, dan adanya naluri
seorang remaja ingin selalu diperhatikan dan ada kaitannya bahwa masa remaja
merupakan masa dimana seseorang belum bisa menata emosi mereka atau dapat
dikatakan usia remaja adalah usia yang labil sehingga butuh perhatian dan
bimbingan dari orang yang ada dsekitar. Isu dalam masyarakat tentang
perkembangan emosi remaja adalah adanya anggapan bahwa remaja rentan terlibat
tindak kekerasan serta tawuran antar pelajar.
Kompetensi:
Pemahaman
mengenai perkembangan sosial remaja serta permasalahannya.
Topik
yang dibahas pada kompetensi ini adalah hakekat perkembangan sosial remaja,dan
karakteristik perkembangan sosial remaja. Pekembangan sosial adalah
perkembangan tingkat hubungan antarmanusia sehubungan denganmeningkatnya
kebutuhan hidup manusia. Perubahan ini diantaranya dalah perubahan dalam
pengelompokan sosial , perubahan dalam berteman, perubahan dalam memperlakukan
teman, perubahan dalam memilih kelompok, dan perubahan dalam sikap dan perilaku
dalam berteman. Karakteristiknya yaitu, timbuknya kesadaran akan dorongan akan
pergaulan, adanya upaya memilih nilai-nilai sosial, meningkatnya ketertarikan
pada lawan jenis, dan mulai cenderung memilih karir tertentu.
Melanjutkan
kompetensi yang sama, kali ini presentator menjelaskan mengenai faktor-faktor
ynag mempengaruhi perkembangan sosial remaja dan isu-isu terkiat dengan
perkembangan sosial dalam konteks budaya. Fsktor yang mempengaruhi perkembangan
sosial remaja adalah karena timbulnya rasa ketertarikan terhadap lawan jenis.
Dapat dilihat ketika seorang anak masih duduk di bangku SD, mereka cenderung
jauh dari teman lawan jenisnya, seddangkan pada anak yang mulai menginjak
jenjang pendidikan sekolah menengah mereka lebih asyik jiga dalam sebuah
perkumpulan terdapan teman dari lawan jenisnya.
Kompetensi:
Pemahaman
mengenai perkembangan moral remaja serta permasalahannya.
Hakekat
perkembangan moral remaja, dan karakteristik perkembangan moral remaja adalah
topik yang dibahas pada pertemuan kali ini. Salah satu tugas perkemangan remaja
adalah membentuk sistem nilai sebagai pedoman perilaku. Karakteristik
perkembangan moral remaja dapat dimasukkan kedalam tahapan perkembangan moral.
Diaman pada usia nol singga sembilan tahun
ada pada tahapan prakonvensional, usia sembilan hingga lima belas tahun
masuk pada tahap konvensional, usia diatas lima belas tahun masuk pada tahap
pascakonvensional, dan yang terakhir yaitu tahapan prinsip etika universal.
Melanjutkan kompetensi yang sama,
kali ini presentator menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan moral remaja dan isu-isu terkiat dengan perkembangan moral dalam
konteks budaya. Tentunya faktor yang berpengaruh adalah faktor didikan dari
orang tua, lingkungan, dan sekolah. Sedangkan isu terkait perkembangan moral
remaja yaitu seorang anak dilarang makan berdiri, makan yang sopan dengan
tangan kanan dan tidak berkecap, kenudian
tumbuhnya nilai-nilai dimana mencuri itu berdosa, berbohong itu tidak
baik, dan sebagainya.
Kompetensi:
Pemahaman
mengenai perilaku sekusal remaja serta permasalahannya.
Topik dari kompetensi ini adalah
karakteristik perilaku seksual remaja dan perkembangan peran seks pada remaja.
Karaketristiknya diantaranya adalahperubahan ciri kelamin, munculnya hormon
estrogen, dan testosteron, timbulnya perasaan suka kepada lawan jenis, dan
adanya perasaan untuk melindungi atau dilindungi. Sedangkan perkambangan peran
seks pada remaja yaitu pentingnya pendidikan seks di SMP dan SMA, serta belajar
membiasakan diri untuk bergaul terhadap lawan jenis.
Pada pertemuan berikutnya,
presentator menjelaskan mengenai dua topik diantaranya adalah faktor-faktor
yang mempengaruhi perilaku seksual remaja dan isu-isu terkait dengan perilaku
seksual remaja dalam konteks budaya. Faktor utama mengenai hal ini adalah
meningkatnya libido seksualitas, selanjutnya kurangnya informasi tentang seks,
lingkungan, dan pergaulan yang semakin bebas. Sedangkan yang menyangkut isu-isu
dalam konteks budaya adalah adanya ketentuan dimana kalau sudah ciuman
barudapat dikatakan pacaran, adanya variasai dalam hal berpacaran, belum pernah
ciuman dibilang aneh, jika mau berhubungan berarti serius dengan pacar, dan
masih banyak lagi isu terkait perilaku sekusal remaja dakam konteks budaya.
Kompetensi:
Permasalahan remaja di sekolah.
Isu-isu terkait permasalahan
remaja di sekolah dan peran guru dalam mengatasi masalah tersebut. Masa remaja
sangat rentan terhadap masalah, diantaranya, menunjukan prestasi rendah, hasil
yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan, lambat dalam melaksanakan
tugas-tugas belajar, melakukan sikap yang kurang wajar seperti cuek, acuh tak
acuh, dusta, suka berpura-pura dan masih banyak lagi. Rupanya ini tidak bisa
kita anggap remeh. Sebagai seorang pendidik selain kita memberikan pelajaran
kita juga diharapkan untuk mampu membimbing anak agar dapat belajar mengenai
kehidupan dan menerapkan nilai-nilai yang berlaku di dalam lingkungan
masyarakat. Jika tidak demikian, maka siswa akan mudah terjerumus pada hal yang
menyesatkan, seperti pergaulan bebas, miras dan narkoba. Dari perkuliahan in
saya mendapatkan pemahaman bahwa remaja itu butuh kedekatan emosional untuk
menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Pemberian sangsi yang tidak
memposisikan mereka sebagai subjek yang sedang belajar justru membuat mereka
jauh dari kitadan semakin membangkang.
Desain
Di atas merupakan hasil desain foto yang saya edit. Foto tersebut hasil dari penggabungan foto yang saya unduh kemudian saya kombinasikan dengan ilustrasi wacana yang ada di dalam koran. Karena saya berkelut dalam bidang pendidikan maka dalam ilustrasi tersebut seolah-olah sang wartawan sedang mengkaji soal perubahan kurikulum di Indonesia.
Saya tertarik dalam bidang desain foto, dan desain layout. Tidak jarang saya menggunakan waktu luang saya dalam liburan atau sela-sela kesibukan untuk melakukan editing foto. Memang sejauh ini saya baru belajar menggunaka Photo Scape, namun seiring berjalannya waktu saya ingin belajar Corel Draw dan Adope Photohop. Siapa tahu dari kegemaran saya ini dapat memberi penghasilan hidup. Tidak hanya sebatas finansial saja, melainkan penghasilan dari pengalaman yang saya dapatkan jika saya dapat mencicipi bagaimana rasanya menjadi edtor atau semacamnya.
Referensi foto:
http://www.google.com/imgres?imgurl=http://programatujuh.files.wordpress.com/2010/07/foto-jurnalistik.jpg&imgrefurl=http://programatujuh.wordpress.com/2010/07/05/pengertian-fotografi-dan-foto-jurnalistik/&usg=__19X78x-6o8Ez-xcud8unY7174Zg=&h=299&w=456&sz=33&hl=id&start=6&sig2=zrwWDBQGKRCL_667jZxIWw&zoom=1&tbnid=3jkz0TkR-dAsKM:&tbnh=84&tbnw=128&ei=FCf_UPfPEcTMrQfRxoHQBw&itbs=1
AKU MENANGIS KETIKA SENJA
Aku menangis ketika senja, ketika kau menghisap arak
Dari masa laluku. Bulan tiba-tiba menjadi hijau
Dan matahari memperlihatkan bopeng wajahnya
Yang bernanah. Seperti siuman dari siang dari malam,
Aku berteriak: “bencana! Bencana!!” tapi
Kau malah menyapa, “ah, ini kan Cuma kiamat belaka!”
Kau tersenyum semanis senyum bayiku ketika tidur
Senyum itu, hei para kekasih masa kini, adalah
Senyuman yang rubuan tahun telah lenyap dari tumpahan waktu sehari hari.
Bahkan bayi pun kini bisa berdusta,
Mengelabui ibunya yang lebih memperhatikan tetangga.
Aku mesti manangis lagi, ketika subuh, ketika embun
Hening dan kebersihan telah menjadi rombeng lapuk
Di kesadaran siang kita. Tapi kau, lagi-lagi Cuma tersenyum
Ketika kau lihat bunga di atas rumahmu
Layu lantaran embun syanida menyiramnya.
Melahirkan dan mati adalah soal biasa. Memang begitu biasanya,
Hingga, siapa pun memiliki hak untuk mematikan dan melahirkan. Katamu.
Aku tak berhenti menangis karena sekejap pun
Aku tak mampu berhenti berpikir. Hendak kuenyahkan
Hati yang tiba-tiba simpati. Hendak kuhidangkan segala
Yang bugil, agar engkau terpanggil. Kuambil lagi do’a
Rekaman-rekaman do’a, untuk mengenang alasan
Kenapa aku menangis
Sebuah puisi yang berjudul AKU MENANGIS KETIKA SENJA yang lahir pada tahun 1992 mencoba menggambarkan kehidupan social dimasa itu. Dimana tidak ada lagi yang peduli terhadap-rakyat kecil. Penyair menganggap suatu peristiwa tertentu merupakan sesuatu yang ekstrim, namun sesuatu yang ekstrim tersebut telah menjadi hal biasa dikehidupan masyarakat pada masa itu. Namun bagaimana pun penilaian orang-orang, penilaian tokoh dalam sajak tersebut tetap prihatin melihat kondisi yang seperti ini. “Aku mesti manangis lagi, ketika subuh, ketika embun. Hening dan kebersihan telah menjadi rombeng lapuk” menggambarkan bahwa tokoh tersebut selalu merenung, meratapi kebobrokan suatu bangsa siang dan malam. “Tapi kau, lagi-lagi Cuma tersenyum . Ketika kau lihat bunga di atas rumahmu. Layu lantaran embun syanida menyiramnya”, Menggambarkan sebuah ketidak pedulian, keacuhan terhadap rakyat kecil yang sengsara karena diperlakukan tidak adil. Ditekankan lagi oleh sang penyair bahwa perbuatan tersebut sudah dianggap menjadi hal biasa. Hingga siapa pun yang berkuasa memiliki hak untuk melakukan hal tersebut. “Aku tak berhenti menangis karena sekejap pun. Aku tak mampu berhenti berpikir”, Sang tokoh tersebut tidak berhenti merenung, menangis karena dia tak mampu untukberhenti berpikir atau tak mampu melupakan hal hal yang terjadi disekitarnya. Dia ingin menghilangkan rasa kepeduliannya namun tak bisa. Tokoh tersebut ingin memperlihatkan dunianya ini secara transparan, betapa rusaknya negeri ini agar yang diatas tahu dan mau memperbaikinya. Namun tokoh tak dapat berharap apalagi berbuat banyak. Segala yang membuatnya resah dia kembalikan kepada Yang Maha Kuasa dengan doanya. Melalui doa tersebut dia seperti melihat rekaman-rekam yang menjadikan alas an kenapa dia seperti sekarang ini.
Dari masa laluku. Bulan tiba-tiba menjadi hijau
Dan matahari memperlihatkan bopeng wajahnya
Yang bernanah. Seperti siuman dari siang dari malam,
Aku berteriak: “bencana! Bencana!!” tapi
Kau malah menyapa, “ah, ini kan Cuma kiamat belaka!”
Kau tersenyum semanis senyum bayiku ketika tidur
Senyum itu, hei para kekasih masa kini, adalah
Senyuman yang rubuan tahun telah lenyap dari tumpahan waktu sehari hari.
Bahkan bayi pun kini bisa berdusta,
Mengelabui ibunya yang lebih memperhatikan tetangga.
Aku mesti manangis lagi, ketika subuh, ketika embun
Hening dan kebersihan telah menjadi rombeng lapuk
Di kesadaran siang kita. Tapi kau, lagi-lagi Cuma tersenyum
Ketika kau lihat bunga di atas rumahmu
Layu lantaran embun syanida menyiramnya.
Melahirkan dan mati adalah soal biasa. Memang begitu biasanya,
Hingga, siapa pun memiliki hak untuk mematikan dan melahirkan. Katamu.
Aku tak berhenti menangis karena sekejap pun
Aku tak mampu berhenti berpikir. Hendak kuenyahkan
Hati yang tiba-tiba simpati. Hendak kuhidangkan segala
Yang bugil, agar engkau terpanggil. Kuambil lagi do’a
Rekaman-rekaman do’a, untuk mengenang alasan
Kenapa aku menangis
Sebuah puisi yang berjudul AKU MENANGIS KETIKA SENJA yang lahir pada tahun 1992 mencoba menggambarkan kehidupan social dimasa itu. Dimana tidak ada lagi yang peduli terhadap-rakyat kecil. Penyair menganggap suatu peristiwa tertentu merupakan sesuatu yang ekstrim, namun sesuatu yang ekstrim tersebut telah menjadi hal biasa dikehidupan masyarakat pada masa itu. Namun bagaimana pun penilaian orang-orang, penilaian tokoh dalam sajak tersebut tetap prihatin melihat kondisi yang seperti ini. “Aku mesti manangis lagi, ketika subuh, ketika embun. Hening dan kebersihan telah menjadi rombeng lapuk” menggambarkan bahwa tokoh tersebut selalu merenung, meratapi kebobrokan suatu bangsa siang dan malam. “Tapi kau, lagi-lagi Cuma tersenyum . Ketika kau lihat bunga di atas rumahmu. Layu lantaran embun syanida menyiramnya”, Menggambarkan sebuah ketidak pedulian, keacuhan terhadap rakyat kecil yang sengsara karena diperlakukan tidak adil. Ditekankan lagi oleh sang penyair bahwa perbuatan tersebut sudah dianggap menjadi hal biasa. Hingga siapa pun yang berkuasa memiliki hak untuk melakukan hal tersebut. “Aku tak berhenti menangis karena sekejap pun. Aku tak mampu berhenti berpikir”, Sang tokoh tersebut tidak berhenti merenung, menangis karena dia tak mampu untukberhenti berpikir atau tak mampu melupakan hal hal yang terjadi disekitarnya. Dia ingin menghilangkan rasa kepeduliannya namun tak bisa. Tokoh tersebut ingin memperlihatkan dunianya ini secara transparan, betapa rusaknya negeri ini agar yang diatas tahu dan mau memperbaikinya. Namun tokoh tak dapat berharap apalagi berbuat banyak. Segala yang membuatnya resah dia kembalikan kepada Yang Maha Kuasa dengan doanya. Melalui doa tersebut dia seperti melihat rekaman-rekam yang menjadikan alas an kenapa dia seperti sekarang ini.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Belajar sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal dan faktor-faktor. Untuk lebih mudah mempelajarinya akan diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor-faktor non-sosial dan faktor-faktor sosial.
2. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar, yaitu faktor fisiologis dan psikologis.
Faktor non-sosial dalam belajar banyak macamnya, seperti keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu, tempat, alat tulis, peraga, dan sebagainya. Letak sekolah mempengaruhi dalam proses belajar, seperti misalnya lokasinya berdekatan dengan sumber kebisingan.
Faktor sosial dalam belajar, yang dimaksud disini adalah faktor manusia, baik manusia itu ada, maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, tidak langsung hadir. Kehadiran seseorang dapat mengganggu konsentrasi belajar.
Faktor fisiologis dapat dibedakan kembali menjadi dua, yaitu tonus jasmani pada umumnya, dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu.
a. Keadaan tonis jasmani pada umumnya.
Keadaan tonus jasmani melatar belakangi aktivitas belajar; tubuh yang segar lain pengaruhnya dengan tubuh yang kurang segar. Ada dua hal yang perlu dikemukakan mengenai hal ini, yaitu:
- Kecukupan nutrisi makanan, karena kekurangan kadar makanan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani, akibatnya lesu, mengantuk, cepat lelah dan sebagainya.
- Penyakit kronis yang mengganggu belajar.
b. Keadaan fungsi-fungsi jasmani.
Baiknya fungsi panca indera merupakan syarat baiknya psoses belajar. Dalam pembelajaran, diantara kelima indera yang paling berperan penting adalah mata dan telinga.
Faktor psikologis memerlukan perhatian khusus, karena ini merupakan hal yang mendorong aktivitas belajar. Arden N. Frandsen mengatakan beberapa hal yang mendorong seseorang untuk belajar sebagai berikut:
- Adanya rasa ingin tahu
- Adanya sifat kreatif dan keinginan untuk maju
- Keinginan mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman
- Keinginan memperbaiki kegagalan
- Keinginan mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran
- Adanya ganjaran
Maslow mengemukakan motif-motif untuk belajar yaitu:
- Adanya kebutuhan fisik
- Adanya kebutuhan akan rasa aman, bebas dari kekhawatiran
- Adanya kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan dalam hubungan dengan orang lain
- Adanya kebutuhan untuk mendapat kehormatan dari masyarakat
- Sesuai dengan sifat untuk mengemukakan atau mengetengahkan diri
RESENSI FILM FREEDOM WRITERS
FREEDOM Writers adalah film yang diangkat dari kisah nyata dimana di dalamnya mengkisahkan perjuangan guru di Amerika Serikat dalam membangkitkan kembali minat belajar anak-anak didiknya. Tokoh utama dalam film ini adalah Erin Gruwell, seorang wanita yang berras kulit putih dengan latar belakang pendidikan tinggi, datang ke Woodrow Wilson High School sebagai guru Bahasa Inggris untuk mengajar di sebuah kelas yang anak-anaknya merupakan korban pertikaian antargeng atas dasar ras.
Tujuan utama Erin adalah mengajar, namun sebelumnya dia kurang paham bagaimana karakteristik kepribadian anak didiknya. Pada hari pertamanya mengajar, ia baru menyadari bahwa yang dia hadapi bukanlah hal yang sepele. Rupanya pertikaian tersebut berdampak di dalam kelas dimana dalam sebuah kelas tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok yang menjadikan ras sebagai pembedanya.
Erin mulai memahami kondisi mereka, pada suatu kesempatan dia mencoba menaklukkan murid-muridnya dengan meminta mereka menulis buku harian. Di buku harian itu, mereka boleh menulis apa pun yang mereka inginkan, rasakan, dan alami. Pada awalnya tidak satu pun dari mereka yang merespon, namun akhirnya ada salah satu muridnya yang maju dan mengambil buku tersebut. Rupanya cara ini berhasil. Buku-buku harian dari para murid-muridnya setiap hari kembali pada Erin dengan tulisan mereka tentang apa yang mereka alami dan mereka pikirkan setiap hari. Dari buku tersebut Erin mendapatkan ide untuk mempertemukan anak-anak tersebut dengan Anne Frank, korban Holocaust.
Walaupun semua usahanya itu tidak didukung oleh rekan-rekan guru yang lain dan pihak sekolah, Erin terus maju. Bahkan, dia rela mengorbankan waktu luangnya untuk bekerja sambilan demi membeli buku-buku bacaan yang berguna bagi para muridnya.Erin juga mendapatkan pertentangan dari suaminya, suaminya menganggap bhwa usaha Erin pada akhirnya akan sia-sia.
Freedom Writers membuat kami sadar bahwa dalam mencapai suatu tujuan kita harus rela berkorman, meskipun dari pihak lain ada yang meragukan usaha kita. Film ini juga mampu memberikan gambaran kepada kami bagaimana situasi pertikaian antar geng yang suatu saat dapat merenggut nyawa kami. Film ini juga memberikan hiburan kepada kami, menyuguhkan suatu hal yang baru, bukan hanya sekedar film untuk hburan, melainkan film ini juga membarikan suatu makna dan pelajaran yang penting bagi kami yang pada nantinya juga bergerak dlam bidang pendidikan.
Film Fredoom Writers merupakan film yang diambil dari kisah nyata, dari film tersebut kami memperoleh informasi bahwa di Amerika , khususnya di Woodrow Wilson, dulunya merupakan area rawan konflik. Masyarakat yang hidup di sana selalu khawatir tentang keamanan mereka. Permasalahan-permasalah remaja yang ditampilkan di film ini juga cukup dekat dengan permasalah remaja pada umumnya, tentang pencarian jati diri dan pelanggaran-pelanggaran peraturan untuk mengukuhkan eksistensi diri.
Film ini terdapat sebuah fakta menarik yaitu salah satunya ada pada adegan saat murid-murid Erin bertemu dengan orang-orang korban Holocaust. Yang berperan menjadi korban Holocaust adalah benar-benar korban Holocaust sendiri. Dalam adegan tersebut murid Erin tercengang mendengar keterangan dari para korban. Dan menarik lagi, saat murid-murud erin menyaksikan tanyangan bagaimana mengerikannya situasi pada saat itu, dan tanyangan tersebut bukanlah rekayasa. Bukti-bukti lain yang mengarahkan bahwa film itu diambil dari kisah nyata yaitu adanya dokumen-dokumen berupa tulisan tangan dari korban yang meninggal, serta foto-foto korban. Korban Holocous tidak pandang bulu, bahkan anak yang masih belia mati di peristiwa yang mengerikan tersebut.
Langganan:
Komentar (Atom)
