Rabu, 23 Januari 2013

FABRIKASI ITU BAIK ATAU BURUK

  Pada dasarnya tujuan dari fabrikasi sendiri adalah menghasilkan diri seseorang agar siap terjun dalam dunia kerja dan lebih condong kearah keberhasilannya dalam hal finansial. Masyarakat awam pada umumnya mungkin belum memahami istilah tersebut. Karena istilah ini baru diperkenalkan dalam lingkup pendidikan di perguruan tinggi. Fabrikasi berbeda dengan pendidikan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, fabrikasi adalah sebuah bentuk pelatihan dimana nantinya peserta yang mendapatkan pelatihan akan siap terjun dan mencapai kemapanan finansial.  Sepintas, memang dampak dari fabrikasi terlihat positif, karena mematangkan keterampilan orang dalam bekerja lebih tinggi. Namun, jika kita telaah lebih dalam ternyata fabrikasi tidak hanya memberikan efek positif saja. Sebelum kita menelusuri dapak apa saja yang timbul dari fabrikasi, kita lihat dulu bentuk-bentuk fabrikasi. Pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu SMA dan SMK/STM. SMA merupakan penerapan pendidikan, karena peserta didik yang memilih melanjutkan  sekolah  ini belum diberikan keterampilan bekerja. Tujuan dari pendidikan adalah untuk menghasilkan seseorang yang dapat menerima ilmu pengetahuan dan dapat mengembangkan ilmu tersebut serta pengembangan karakternya. Sedangkan SMK/STM memberikan keterampilan serta memberi kesempatan bagi pesertadidik terjun lansung dalam dunia kerja, yang sering kita sebut dengan istilah Praktek Kerja Lapangan.  Tiga tahun belakangan ini pemerintah cenderung mengarahkan calon pesertadidik Sekolah Lanjutan Tingkat Atas untuk memilih SMK sebagai sekolah lanjutannya. Usaha itu dapat dilihat dari beberapa iklan yang menawarkan berbagai keunggulan yang dimiliki sekolah tersebut. Hampir tidak terdengar iklan yang menyarankan agar pesertadidik memilih untuk mendapat dan mengengembangkan ilmu pengetahuan serta mengembangan karakter mereka. Sudah jelas, dengan dukungan dari pemerintah, serta keuntungan yang diperoleh jika memilih sekolah kejuruan maka orangtua akan lebih senang jika putra putri mereka melanjutkan di sekolah kejuruan. Secara, dengan ini akan menghemat waktu karena sudah jelas setelah lulus anak mereka sudah memiliki keterampilan kerja. Namun terlepas dari itu semua ada satu kelemahannya yaitu adanya kemungkinan perkembangan karakter mereka kurang.  Semakin banyaknya fabrikasi, terlebih jika sekolah kejuruan membuka ruang baru untuk menambah pesertadidik mereka maka dampaknya akan terasa pada sekolah umum. Masyarakat akan cenderung memilih sekolah yang memberikan keterampilan kerja. Memang benar, ini berarti sekolah kejuruan membuka kesempatan yang lebih luas kepada peserta didik untuk mendapatkan keterampilan kerja. Jika kasusnya demikian, yang mendapatkan dampak buruk adalah sekolah umum. Mengapa demikian. Mereka akan lebih memilih ke sekolah kejuruan dan sekolah tersebut akan menyerap lebih banyak peserta didik baru. Kasus ini membuat proses pendidikan menjadi ajang bisnis baru. Mengingat bahwa lulusan di Indonesia yang menempuh pendidikan sains sangat kurang, harusnya ada peraturan baru yang mengendalikan jumlah siswa dalam sebuah sekolah. Misalkan saja setiap sekolah kejuruan diberikan batas kuota maksimal untuk setiap jurusan, dan yang akan masuk dalam kelas-kelas tersebut akan melalui proses seleksi. Dengan demikian maka setidaknya dapat membantu pemerataan siswa sekolah lanjutan dengan sekolah kejuruan. Maka bukan tidak mungkin dari kebijakan ini secara tidak langsung akan menambah jumlah lulusan yang menempuh pendidikan sains. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar