Selasa, 22 Januari 2013

AKU MENANGIS KETIKA SENJA




 Aku menangis ketika senja, ketika kau menghisap arak
Dari masa laluku. Bulan tiba-tiba menjadi hijau
Dan matahari memperlihatkan bopeng wajahnya
Yang bernanah. Seperti siuman dari siang dari malam,
Aku berteriak: “bencana! Bencana!!” tapi

Kau malah menyapa, “ah, ini kan Cuma kiamat belaka!”
Kau tersenyum semanis senyum bayiku ketika tidur
Senyum itu, hei para kekasih masa kini, adalah
Senyuman yang rubuan tahun telah lenyap dari tumpahan waktu sehari hari.
Bahkan bayi pun kini bisa berdusta,
Mengelabui ibunya yang lebih memperhatikan tetangga.
Aku mesti manangis lagi, ketika subuh, ketika embun
Hening dan kebersihan telah menjadi rombeng lapuk
Di kesadaran siang kita. Tapi kau, lagi-lagi Cuma tersenyum
Ketika kau lihat bunga di atas rumahmu
Layu lantaran embun syanida menyiramnya.
Melahirkan dan mati adalah soal biasa. Memang begitu biasanya,
Hingga, siapa pun memiliki hak untuk mematikan dan melahirkan. Katamu.
Aku tak berhenti menangis karena sekejap pun
Aku tak mampu berhenti berpikir. Hendak kuenyahkan
Hati yang tiba-tiba simpati. Hendak kuhidangkan segala
Yang bugil, agar engkau terpanggil. Kuambil lagi do’a
Rekaman-rekaman do’a, untuk mengenang alasan
Kenapa aku menangis                

 Sebuah puisi yang berjudul AKU MENANGIS KETIKA SENJA yang lahir pada tahun 1992 mencoba menggambarkan kehidupan social dimasa itu. Dimana tidak ada lagi yang peduli terhadap-rakyat kecil. Penyair menganggap suatu peristiwa tertentu merupakan sesuatu yang ekstrim, namun sesuatu yang ekstrim tersebut telah menjadi hal biasa dikehidupan masyarakat pada masa itu. Namun bagaimana pun penilaian orang-orang, penilaian tokoh dalam sajak tersebut tetap prihatin melihat kondisi yang seperti ini. “Aku mesti manangis lagi, ketika subuh, ketika embun. Hening dan kebersihan telah menjadi rombeng lapuk” menggambarkan bahwa tokoh tersebut selalu merenung, meratapi kebobrokan suatu bangsa siang dan malam.      “Tapi kau, lagi-lagi Cuma tersenyum . Ketika kau lihat bunga di atas rumahmu. Layu lantaran embun syanida menyiramnya”,  Menggambarkan sebuah ketidak pedulian, keacuhan terhadap rakyat kecil yang sengsara karena diperlakukan tidak adil. Ditekankan lagi oleh sang penyair bahwa perbuatan tersebut sudah dianggap menjadi hal biasa. Hingga siapa pun yang berkuasa memiliki hak untuk melakukan hal tersebut.      “Aku tak berhenti menangis karena sekejap pun. Aku tak mampu berhenti berpikir”,  Sang tokoh tersebut tidak berhenti merenung, menangis karena dia tak mampu untukberhenti berpikir atau tak mampu melupakan hal hal yang terjadi disekitarnya. Dia ingin menghilangkan rasa kepeduliannya namun tak bisa. Tokoh tersebut ingin memperlihatkan dunianya ini secara transparan, betapa rusaknya negeri ini agar yang diatas tahu dan mau memperbaikinya. Namun tokoh tak dapat berharap apalagi berbuat banyak. Segala yang membuatnya resah dia kembalikan kepada Yang Maha Kuasa dengan doanya. Melalui doa tersebut dia seperti melihat rekaman-rekam yang menjadikan alas an kenapa dia seperti sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar